• Sed et quam sed mi pretium

    Sed et quam sed mi pretium

    Today we will be creating a little app showcase with a neat effect. The idea is to show a mobile device with a screenshot of an app and when clicking on the device, a grid appears, showing some more screenshots. The effect is very subtle... Read more

  • Pellentesque cursus ipsum eget

    Pellentesque cursus ipsum eget

    Today we will be creating a little app showcase with a neat effect. The idea is to show a mobile device with a screenshot of an app and when clicking on the device, a grid appears, showing some more screenshots. The effect is very subtle... Read more

  • Vestibulum ante ipsum primis in faucibus

    Vestibulum ante ipsum primis in faucibus

    Today we will be creating a little app showcase with a neat effect. The idea is to show a mobile device with a screenshot of an app and when clicking on the device, a grid appears, showing some more screenshots. The effect is very subtle... Read more

  • Fusce molestie tortor vel nulla

    Fusce molestie tortor vel nulla

    Today we will be creating a little app showcase with a neat effect. The idea is to show a mobile device with a screenshot of an app and when clicking on the device, a grid appears, showing some more screenshots. The effect is very subtle... Read more

  • Sed et quam sed mi pretium

    Sed et quam sed mi pretium

    Today we will be creating a little app showcase with a neat effect. The idea is to show a mobile device with a screenshot of an app and when clicking on the device, a grid appears, showing some more screenshots. The effect is very subtle... Read more

  • Pellentesque cursus ipsum eget

    Pellentesque cursus ipsum eget

    Today we will be creating a little app showcase with a neat effect. The idea is to show a mobile device with a screenshot of an app and when clicking on the device, a grid appears, showing some more screenshots. The effect is very subtle... Read more

Test Footer 1

Test Footer

Your Info

Test midle sidebar

Test Footer 2

Mana Lebih Dulu, Adam atau Manusia Purba?

In , By fauzan ishlah / Kamis, Mei 16, 2013


 Mungkin Anda sempat bingung, menurut keyakinan Islam, Adam adalah manusia pertama. Tapi di sisi lain ada fakta penemuan fosil manusia purba yang telah berusia jutaan tahun.
Ada yang menyimpulkan bahwa Adam tetap manusia pertama, Adam adalah nenek moyang manusia purba dan manusia yang ada sekarang, lalu menyimpulkan Adam telah berusia jutaan tahun yang menjadi nenek moyang semua manusia.

Bahkan ada yang terpengaruh teori evolusi, dan menyimpulkan bahwa Adam bukanlah manusia pertama, Adam adalah keturunan dari manusia purba, sedangkan manusia purba adalah berasal dari jenis kera. Na’udzubillah.

Data tambahan berikut ini semoga bisa dijadikan benang merah yang dijadikan pijakan tentang mana yang lebih dulu antara Adam dan manusia purba.

Pertama, menurut penemuan fosil-fosil manusia purba di abad-abad akhir ini disimpulkan bahwa para manusia purba ini hidup JUTAAN tahun lalu. Semoga kesimpulan arkeolog ini benar, sebab kesimpulan usia fosil ini menjadi penentu posisi ‘manusia purba’ ini selanjutnya.

Kedua. Bangsa Arab dikenal sangat hafal silsilah nenek moyangnya, bahkan banyak orang Arab yang bisa hafal silsilahnya hingga Nabi Adam as. Dari data yang tertulis maupun hafalan bangsa Arab akan silsilah mereka ini, disimpulkan bahwa Nabi Adam a.s. hidup sekitar 6.000 (ENAM RIBU) tahun silam. Data ini cukup valid, mengingat kemampuan menghafal silsilah (dan banyak hal) dalam bangsa Arab merupakan suatu yang meyakinkan.

Jadi siapakah manusia yang lebih dulu? Dari dua data di atas maka bisa disimpulkan bahwa manusia purba ada terlebih dahulu dibandingkan dengan Nabi Adam a.s.

Jadi, Adam tetap Manusia Pertama?
Dalam banyak nash Al-Quran disebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama, ia diciptakan dari tanah langsung, dan dia tidak berayah dan tidak beribu. Pernyataan inilah yang menjadi dasar Islam tentang konsep “asal usul manusia”.

Kemunculan Adam yang tidak berayah dan beribu dan diciptakan langsung dari tanah menegaskan konsep Islam bahwa Adam “tetap” Manusia Pertama, setidaknya Manusia Pertama dari jenisnya. Dari dialah kemudian muncul manusia termasuk kita sekarang. Sehingga kita sering disebut sebagai “bani Adam” atau “keturunan Adam”.

Jika dilihat dari silsilah yang terekam oleh bangsa Arab di atas, dapat disimpulkan bahwa Adam dan keturunannya yang ada sekarang telah ada di muka bumi sejak 6.000-an tahun lalu. Tetapi usia ini tergolong sangat muda dibanding dengan fosil manusia purba yang diperkirakan telah berusia JUTAAN tahun.

Sekalipun muncul fakta ada manusia purba yang telah berusia jutaan tahun mendahului Adam yang baru ribuan tahun, konsep Islam bahwa “Adam adalah manusia pertama” tidaklah berubah. Menurut agama Islam, kedudukan Adam sebagai manusia pertama dari “jenis manusia” yang ada sekarang ini.

Bila kemudian ditemukan fakta bahwa sebelumnya ada “manusia purba”, maka manusia purba yang itu tentu “berbeda” dengan manusia dari jenis Adam dan keturunannya.
Keunggulan Manusia Keturunan AdamDalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa Allah mengumumkan kepada para malaikat akan menjadikan khalifah (manusia) di muka bumi. Pengumuman ini disambut kekhawatiran para malaikat bahwa manusia nanti akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa kekhawatiran para malaikat ini berkaca dari “manusia pendahulunya” yang pernah mendiami bumi dan mengadakan kerusakan serta menumpahkan darah, sehingga mereka punah. Manusia pendahulu inilah yang saat ini ditemukan fosilnya dan kita namai sebagai manusia purba.
Dalam QS. Al-Baqarah 30 disebutkan: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Menanggapi kekhawatiran para Malaikat itu, Allah menyatakan dalam ayat berikutnya bahwa sosok manusia “yang kali ini”

Dia ciptakan akan dibekalinya “ilmu seluruhnya” (ilmu yang sempurna). Penekanan pemberian bekal ilmu inilah yang seolah menjadi inti perbedaan “manusia” yang akan diciptakan ini dibandingkan dengan “makhluk lain” (dibandingkan jin, malaikat dan dibandingkan pendahulunya yaitu manusia purba).
Disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

QS. Al-Baqarah ayat 33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

Dari data-data dan kajian singkat di atas, bisa kita gambarkan kesimpulan sebagai berikut:
Pertama. Ketika Adam dan manusia keturunannya belum diciptakan, di muka bumi ini pernah hidup sejenis manusia yang secara fisik mereka hampir seperti manusia sekarang, mereka memiliki nafsu dan insting untuk hidup tetapi mereka belum diberi “ilmu pengetahuan yang sempurna” oleh Allah, sehingga karenanyalah mereka sering mengadakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah di antara sesama mereka. Dan karena itulah mereka punah.

Manusia-manusia inilah yang fosilnya kita temukan sekarang dan kita namai sebagai MANUSIA PURBA. Manusia-manusia jenis ini hampir punah seluruhnya dan tidak tersambung dengan Adam dan keturunannya. Seandainya masih ada keturunan manusia purba, mereka jumlahnya amat sedikit dan hidupnya di pedalaman, dan yang terpenting tingkat kemampuan berfikir dan teknologi mereka tentu sangat rendah, dan hampir-hampir tidak bisa kita lihat sisi "kemanusiaan"nya.
Kedua. Setelah kepunahan manusia purba untuk sekian lamanya, barulah Allah menciptakan jenis manusia baru yang “berbeda”. Manusia jenis ini dibekali nafsu dan insting untuk hidup, namun juga dibekali “ilmu pengetahuan yang sempurna” termasuk diturunkannya agama (QS. Al-Baqarah 31-33). Adam-lah yang menjadi manusia pertama yang diciptakan dari jenis ini.

Penciptaan “manusia purba” yang punah itu menjadi pelajaran bagi Adam dan keturunannya, bahwa manusia tanpa “ilmu pengetahuan dan agama” hanya akan menciptakan kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya, dan inilah yang menjadi penyebab punahnya mereka.
Jadi, manusia yang hidup di bumi saat ini merupakan keturunan Adam seluruhnya. Tidak ada satupun yang merupakan keturunan manusia purba. Manusia purba benar-benar sudah punah. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Jawa-Indonesia kalaulah benar usianya sudah jutaan tahun, maka bukanlah nenek moyang asli dari penduduk Jawa sekarang ini, begitu juga fosil-fosil di tempat lain bukanlah nenek moyang dari manusia yang ada sekarang.


Lain urusan
Berbeda lagi urusannya, apakah manusia-manusia purba itu merupakan keturunan kera ataukah bukan? Kalau benar keturunan kera, mengapa kera-kera itu sekarang masih ada? Apakah kera-kera itu tidak ikut berevolusi? Kera-kera sekarang ini dulunya seperti apa, dan nanti akan menjadi seperti apa? Jangan-jangan kera punya garis sendiri, dan manusia punya garis sendiri, artinya teori evolusi itu hanya mengada-ada?

Ketika teori evolusi menyimpulkan bahwa burung-burung yang ada sekarang adalah hasil evolusi dari dinosaurus seperti T-Rex di zaman purbakala, tiba-tiba ditemukan fosil “burung yang sama” yang usianya sezaman dengan T-Rex. Berarti burung yang sekarang, dulu juga adalah burung, bukan evolusi dari T-Rex, dan memang tidak ada evolusi!?

Semua ini masih menjadi perdebatan antara penganut teori evolusi dan penentangnya, juga menjadi pekerjaan rumah bagi manusia untuk membuktikan kebenarannya

Bahkan ada yang terpengaruh teori evolusi, dan menyimpulkan bahwa Adam bukanlah manusia pertama, Adam adalah keturunan dari manusia purba, sedangkan manusia purba adalah berasal dari jenis kera. Na’udzubillah.
Data tambahan berikut ini semoga bisa dijadikan benang merah yang dijadikan pijakan tentang mana yang lebih dulu antara Adam dan manusia purba.Pertama, menurut penemuan fosil-fosil manusia purba di abad-abad akhir ini disimpulkan bahwa para manusia purba ini hidup JUTAAN tahun lalu. Semoga kesimpulan arkeolog ini benar, sebab kesimpulan usia fosil ini menjadi penentu posisi ‘manusia purba’ ini selanjutnya.
Kedua. Bangsa Arab dikenal sangat hafal silsilah nenek moyangnya, bahkan banyak orang Arab yang bisa hafal silsilahnya hingga Nabi Adam as. Dari data yang tertulis maupun hafalan bangsa Arab akan silsilah mereka ini, disimpulkan bahwa Nabi Adam a.s. hidup sekitar 6.000 (ENAM RIBU) tahun silam. Data ini cukup valid, mengingat kemampuan menghafal silsilah (dan banyak hal) dalam bangsa Arab merupakan suatu yang meyakinkan.
Jadi siapakah manusia yang lebih dulu? Dari dua data di atas maka bisa disimpulkan bahwa manusia purba ada terlebih dahulu dibandingkan dengan Nabi Adam a.s.
Jadi, Adam tetap Manusia Pertama?Dalam banyak nash Al-Quran disebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama, ia diciptakan dari tanah langsung, dan dia tidak berayah dan tidak beribu. Pernyataan inilah yang menjadi dasar Islam tentang konsep “asal usul manusia”.
Kemunculan Adam yang tidak berayah dan beribu dan diciptakan langsung dari tanah menegaskan konsep Islam bahwa Adam “tetap” Manusia Pertama, setidaknya Manusia Pertama dari jenisnya. Dari dialah kemudian muncul manusia termasuk kita sekarang. Sehingga kita sering disebut sebagai “bani Adam” atau “keturunan Adam”.
Jika dilihat dari silsilah yang terekam oleh bangsa Arab di atas, dapat disimpulkan bahwa Adam dan keturunannya yang ada sekarang telah ada di muka bumi sejak 6.000-an tahun lalu. Tetapi usia ini tergolong sangat muda dibanding dengan fosil manusia purba yang diperkirakan telah berusia JUTAAN tahun.
Sekalipun muncul fakta ada manusia purba yang telah berusia jutaan tahun mendahului Adam yang baru ribuan tahun, konsep Islam bahwa “Adam adalah manusia pertama” tidaklah berubah. Menurut agama Islam, kedudukan Adam sebagai manusia pertama dari “jenis manusia” yang ada sekarang ini.
Bila kemudian ditemukan fakta bahwa sebelumnya ada “manusia purba”, maka manusia purba yang itu tentu “berbeda” dengan manusia dari jenis Adam dan keturunannya.
Keunggulan Manusia Keturunan AdamDalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa Allah mengumumkan kepada para malaikat akan menjadikan khalifah (manusia) di muka bumi. Pengumuman ini disambut kekhawatiran para malaikat bahwa manusia nanti akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya.
Sebagian ulama berpendapat, bahwa kekhawatiran para malaikat ini berkaca dari “manusia pendahulunya” yang pernah mendiami bumi dan mengadakan kerusakan serta menumpahkan darah, sehingga mereka punah. Manusia pendahulu inilah yang saat ini ditemukan fosilnya dan kita namai sebagai manusia purba.
Dalam QS. Al-Baqarah 30 disebutkan: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Menanggapi kekhawatiran para Malaikat itu, Allah menyatakan dalam ayat berikutnya bahwa sosok manusia “yang kali ini”
Dia ciptakan akan dibekalinya “ilmu seluruhnya” (ilmu yang sempurna). Penekanan pemberian bekal ilmu inilah yang seolah menjadi inti perbedaan “manusia” yang akan diciptakan ini dibandingkan dengan “makhluk lain” (dibandingkan jin, malaikat dan dibandingkan pendahulunya yaitu manusia purba).
Disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
QS. Al-Baqarah ayat 33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Dari data-data dan kajian singkat di atas, bisa kita gambarkan kesimpulan sebagai berikut:
Pertama. Ketika Adam dan manusia keturunannya belum diciptakan, di muka bumi ini pernah hidup sejenis manusia yang secara fisik mereka hampir seperti manusia sekarang, mereka memiliki nafsu dan insting untuk hidup tetapi mereka belum diberi “ilmu pengetahuan yang sempurna” oleh Allah, sehingga karenanyalah mereka sering mengadakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah di antara sesama mereka. Dan karena itulah mereka punah.
Manusia-manusia inilah yang fosilnya kita temukan sekarang dan kita namai sebagai MANUSIA PURBA. Manusia-manusia jenis ini hampir punah seluruhnya dan tidak tersambung dengan Adam dan keturunannya. Seandainya masih ada keturunan manusia purba, mereka jumlahnya amat sedikit dan hidupnya di pedalaman, dan yang terpenting tingkat kemampuan berfikir dan teknologi mereka tentu sangat rendah, dan hampir-hampir tidak bisa kita lihat sisi "kemanusiaan"nya.
Kedua. Setelah kepunahan manusia purba untuk sekian lamanya, barulah Allah menciptakan jenis manusia baru yang “berbeda”. Manusia jenis ini dibekali nafsu dan insting untuk hidup, namun juga dibekali “ilmu pengetahuan yang sempurna” termasuk diturunkannya agama (QS. Al-Baqarah 31-33). Adam-lah yang menjadi manusia pertama yang diciptakan dari jenis ini.
Penciptaan “manusia purba” yang punah itu menjadi pelajaran bagi Adam dan keturunannya, bahwa manusia tanpa “ilmu pengetahuan dan agama” hanya akan menciptakan kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya, dan inilah yang menjadi penyebab punahnya mereka.
Jadi, manusia yang hidup di bumi saat ini merupakan keturunan Adam seluruhnya. Tidak ada satupun yang merupakan keturunan manusia purba. Manusia purba benar-benar sudah punah. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Jawa-Indonesia kalaulah benar usianya sudah jutaan tahun, maka bukanlah nenek moyang asli dari penduduk Jawa sekarang ini, begitu juga fosil-fosil di tempat lain bukanlah nenek moyang dari manusia yang ada sekarang.

Lain urusanBerbeda lagi urusannya, apakah manusia-manusia purba itu merupakan keturunan kera ataukah bukan? Kalau benar keturunan kera, mengapa kera-kera itu sekarang masih ada? Apakah kera-kera itu tidak ikut berevolusi? Kera-kera sekarang ini dulunya seperti apa, dan nanti akan menjadi seperti apa? Jangan-jangan kera punya garis sendiri, dan manusia punya garis sendiri, artinya teori evolusi itu hanya mengada-ada?
Ketika teori evolusi menyimpulkan bahwa burung-burung yang ada sekarang adalah hasil evolusi dari dinosaurus seperti T-Rex di zaman purbakala, tiba-tiba ditemukan fosil “burung yang sama” yang usianya sezaman dengan T-Rex. Berarti burung yang sekarang, dulu juga adalah burung, bukan evolusi dari T-Rex, dan memang tidak ada evolusi!?
Semua ini masih menjadi perdebatan antara penganut teori evolusi dan penentangnya, juga menjadi pekerjaan rumah bagi manusia untuk membuktikan kebenarannyaBahkan ada yang terpengaruh teori evolusi, dan menyimpulkan bahwa Adam bukanlah manusia pertama, Adam adalah keturunan dari manusia purba, sedangkan manusia purba adalah berasal dari jenis kera. Na’udzubillah.Data tambahan berikut ini semoga bisa dijadikan benang merah yang dijadikan pijakan tentang mana yang lebih dulu antara Adam dan manusia purba.Pertama, menurut penemuan fosil-fosil manusia purba di abad-abad akhir ini disimpulkan bahwa para manusia purba ini hidup JUTAAN tahun lalu. Semoga kesimpulan arkeolog ini benar, sebab kesimpulan usia fosil ini menjadi penentu posisi ‘manusia purba’ ini selanjutnya.Kedua. Bangsa Arab dikenal sangat hafal silsilah nenek moyangnya, bahkan banyak orang Arab yang bisa hafal silsilahnya hingga Nabi Adam as. Dari data yang tertulis maupun hafalan bangsa Arab akan silsilah mereka ini, disimpulkan bahwa Nabi Adam a.s. hidup sekitar 6.000 (ENAM RIBU) tahun silam. Data ini cukup valid, mengingat kemampuan menghafal silsilah (dan banyak hal) dalam bangsa Arab merupakan suatu yang meyakinkan.Jadi siapakah manusia yang lebih dulu? Dari dua data di atas maka bisa disimpulkan bahwa manusia purba ada terlebih dahulu dibandingkan dengan Nabi Adam a.s.Jadi, Adam tetap Manusia Pertama?Dalam banyak nash Al-Quran disebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama, ia diciptakan dari tanah langsung, dan dia tidak berayah dan tidak beribu. Pernyataan inilah yang menjadi dasar Islam tentang konsep “asal usul manusia”.Kemunculan Adam yang tidak berayah dan beribu dan diciptakan langsung dari tanah menegaskan konsep Islam bahwa Adam “tetap” Manusia Pertama, setidaknya Manusia Pertama dari jenisnya. Dari dialah kemudian muncul manusia termasuk kita sekarang. Sehingga kita sering disebut sebagai “bani Adam” atau “keturunan Adam”.Jika dilihat dari silsilah yang terekam oleh bangsa Arab di atas, dapat disimpulkan bahwa Adam dan keturunannya yang ada sekarang telah ada di muka bumi sejak 6.000-an tahun lalu. Tetapi usia ini tergolong sangat muda dibanding dengan fosil manusia purba yang diperkirakan telah berusia JUTAAN tahun.Sekalipun muncul fakta ada manusia purba yang telah berusia jutaan tahun mendahului Adam yang baru ribuan tahun, konsep Islam bahwa “Adam adalah manusia pertama” tidaklah berubah. Menurut agama Islam, kedudukan Adam sebagai manusia pertama dari “jenis manusia” yang ada sekarang ini.Bila kemudian ditemukan fakta bahwa sebelumnya ada “manusia purba”, maka manusia purba yang itu tentu “berbeda” dengan manusia dari jenis Adam dan keturunannya.Keunggulan Manusia Keturunan AdamDalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa Allah mengumumkan kepada para malaikat akan menjadikan khalifah (manusia) di muka bumi. Pengumuman ini disambut kekhawatiran para malaikat bahwa manusia nanti akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya.Sebagian ulama berpendapat, bahwa kekhawatiran para malaikat ini berkaca dari “manusia pendahulunya” yang pernah mendiami bumi dan mengadakan kerusakan serta menumpahkan darah, sehingga mereka punah. Manusia pendahulu inilah yang saat ini ditemukan fosilnya dan kita namai sebagai manusia purba.Dalam QS. Al-Baqarah 30 disebutkan: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."Menanggapi kekhawatiran para Malaikat itu, Allah menyatakan dalam ayat berikutnya bahwa sosok manusia “yang kali ini”Dia ciptakan akan dibekalinya “ilmu seluruhnya” (ilmu yang sempurna). Penekanan pemberian bekal ilmu inilah yang seolah menjadi inti perbedaan “manusia” yang akan diciptakan ini dibandingkan dengan “makhluk lain” (dibandingkan jin, malaikat dan dibandingkan pendahulunya yaitu manusia purba).Disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"QS. Al-Baqarah ayat 33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"Dari data-data dan kajian singkat di atas, bisa kita gambarkan kesimpulan sebagai berikut:Pertama. Ketika Adam dan manusia keturunannya belum diciptakan, di muka bumi ini pernah hidup sejenis manusia yang secara fisik mereka hampir seperti manusia sekarang, mereka memiliki nafsu dan insting untuk hidup tetapi mereka belum diberi “ilmu pengetahuan yang sempurna” oleh Allah, sehingga karenanyalah mereka sering mengadakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah di antara sesama mereka. Dan karena itulah mereka punah.Manusia-manusia inilah yang fosilnya kita temukan sekarang dan kita namai sebagai MANUSIA PURBA. Manusia-manusia jenis ini hampir punah seluruhnya dan tidak tersambung dengan Adam dan keturunannya. Seandainya masih ada keturunan manusia purba, mereka jumlahnya amat sedikit dan hidupnya di pedalaman, dan yang terpenting tingkat kemampuan berfikir dan teknologi mereka tentu sangat rendah, dan hampir-hampir tidak bisa kita lihat sisi "kemanusiaan"nya.Kedua. Setelah kepunahan manusia purba untuk sekian lamanya, barulah Allah menciptakan jenis manusia baru yang “berbeda”. Manusia jenis ini dibekali nafsu dan insting untuk hidup, namun juga dibekali “ilmu pengetahuan yang sempurna” termasuk diturunkannya agama (QS. Al-Baqarah 31-33). Adam-lah yang menjadi manusia pertama yang diciptakan dari jenis ini.Penciptaan “manusia purba” yang punah itu menjadi pelajaran bagi Adam dan keturunannya, bahwa manusia tanpa “ilmu pengetahuan dan agama” hanya akan menciptakan kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya, dan inilah yang menjadi penyebab punahnya mereka.Jadi, manusia yang hidup di bumi saat ini merupakan keturunan Adam seluruhnya. Tidak ada satupun yang merupakan keturunan manusia purba. Manusia purba benar-benar sudah punah. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Jawa-Indonesia kalaulah benar usianya sudah jutaan tahun, maka bukanlah nenek moyang asli dari penduduk Jawa sekarang ini, begitu juga fosil-fosil di tempat lain bukanlah nenek moyang dari manusia yang ada sekarang.
Lain urusanBerbeda lagi urusannya, apakah manusia-manusia purba itu merupakan keturunan kera ataukah bukan? Kalau benar keturunan kera, mengapa kera-kera itu sekarang masih ada? Apakah kera-kera itu tidak ikut berevolusi? Kera-kera sekarang ini dulunya seperti apa, dan nanti akan menjadi seperti apa? Jangan-jangan kera punya garis sendiri, dan manusia punya garis sendiri, artinya teori evolusi itu hanya mengada-ada?Ketika teori evolusi menyimpulkan bahwa burung-burung yang ada sekarang adalah hasil evolusi dari dinosaurus seperti T-Rex di zaman purbakala, tiba-tiba ditemukan fosil “burung yang sama” yang usianya sezaman dengan T-Rex. Berarti burung yang sekarang, dulu juga adalah burung, bukan evolusi dari T-Rex, dan memang tidak ada evolusi!?Semua ini masih menjadi perdebatan antara penganut teori evolusi dan penentangnya, juga menjadi pekerjaan rumah bagi manusia untuk membuktikan kebenarannyaBahkan ada yang terpengaruh teori evolusi, dan menyimpulkan bahwa Adam bukanlah manusia pertama, Adam adalah keturunan dari manusia purba, sedangkan manusia purba adalah berasal dari jenis kera. Na’udzubillah.Data tambahan berikut ini semoga bisa dijadikan benang merah yang dijadikan pijakan tentang mana yang lebih dulu antara Adam dan manusia purba.Pertama, menurut penemuan fosil-fosil manusia purba di abad-abad akhir ini disimpulkan bahwa para manusia purba ini hidup JUTAAN tahun lalu. Semoga kesimpulan arkeolog ini benar, sebab kesimpulan usia fosil ini menjadi penentu posisi ‘manusia purba’ ini selanjutnya.Kedua. Bangsa Arab dikenal sangat hafal silsilah nenek moyangnya, bahkan banyak orang Arab yang bisa hafal silsilahnya hingga Nabi Adam as. Dari data yang tertulis maupun hafalan bangsa Arab akan silsilah mereka ini, disimpulkan bahwa Nabi Adam a.s. hidup sekitar 6.000 (ENAM RIBU) tahun silam. Data ini cukup valid, mengingat kemampuan menghafal silsilah (dan banyak hal) dalam bangsa Arab merupakan suatu yang meyakinkan.Jadi siapakah manusia yang lebih dulu? Dari dua data di atas maka bisa disimpulkan bahwa manusia purba ada terlebih dahulu dibandingkan dengan Nabi Adam a.s.Jadi, Adam tetap Manusia Pertama?Dalam banyak nash Al-Quran disebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama, ia diciptakan dari tanah langsung, dan dia tidak berayah dan tidak beribu. Pernyataan inilah yang menjadi dasar Islam tentang konsep “asal usul manusia”.Kemunculan Adam yang tidak berayah dan beribu dan diciptakan langsung dari tanah menegaskan konsep Islam bahwa Adam “tetap” Manusia Pertama, setidaknya Manusia Pertama dari jenisnya. Dari dialah kemudian muncul manusia termasuk kita sekarang. Sehingga kita sering disebut sebagai “bani Adam” atau “keturunan Adam”.Jika dilihat dari silsilah yang terekam oleh bangsa Arab di atas, dapat disimpulkan bahwa Adam dan keturunannya yang ada sekarang telah ada di muka bumi sejak 6.000-an tahun lalu. Tetapi usia ini tergolong sangat muda dibanding dengan fosil manusia purba yang diperkirakan telah berusia JUTAAN tahun.Sekalipun muncul fakta ada manusia purba yang telah berusia jutaan tahun mendahului Adam yang baru ribuan tahun, konsep Islam bahwa “Adam adalah manusia pertama” tidaklah berubah. Menurut agama Islam, kedudukan Adam sebagai manusia pertama dari “jenis manusia” yang ada sekarang ini.Bila kemudian ditemukan fakta bahwa sebelumnya ada “manusia purba”, maka manusia purba yang itu tentu “berbeda” dengan manusia dari jenis Adam dan keturunannya.Keunggulan Manusia Keturunan AdamDalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa Allah mengumumkan kepada para malaikat akan menjadikan khalifah (manusia) di muka bumi. Pengumuman ini disambut kekhawatiran para malaikat bahwa manusia nanti akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya.Sebagian ulama berpendapat, bahwa kekhawatiran para malaikat ini berkaca dari “manusia pendahulunya” yang pernah mendiami bumi dan mengadakan kerusakan serta menumpahkan darah, sehingga mereka punah. Manusia pendahulu inilah yang saat ini ditemukan fosilnya dan kita namai sebagai manusia purba.Dalam QS. Al-Baqarah 30 disebutkan: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."Menanggapi kekhawatiran para Malaikat itu, Allah menyatakan dalam ayat berikutnya bahwa sosok manusia “yang kali ini”Dia ciptakan akan dibekalinya “ilmu seluruhnya” (ilmu yang sempurna). Penekanan pemberian bekal ilmu inilah yang seolah menjadi inti perbedaan “manusia” yang akan diciptakan ini dibandingkan dengan “makhluk lain” (dibandingkan jin, malaikat dan dibandingkan pendahulunya yaitu manusia purba).Disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"QS. Al-Baqarah ayat 33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"Dari data-data dan kajian singkat di atas, bisa kita gambarkan kesimpulan sebagai berikut:Pertama. Ketika Adam dan manusia keturunannya belum diciptakan, di muka bumi ini pernah hidup sejenis manusia yang secara fisik mereka hampir seperti manusia sekarang, mereka memiliki nafsu dan insting untuk hidup tetapi mereka belum diberi “ilmu pengetahuan yang sempurna” oleh Allah, sehingga karenanyalah mereka sering mengadakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah di antara sesama mereka. Dan karena itulah mereka punah.Manusia-manusia inilah yang fosilnya kita temukan sekarang dan kita namai sebagai MANUSIA PURBA. Manusia-manusia jenis ini hampir punah seluruhnya dan tidak tersambung dengan Adam dan keturunannya. Seandainya masih ada keturunan manusia purba, mereka jumlahnya amat sedikit dan hidupnya di pedalaman, dan yang terpenting tingkat kemampuan berfikir dan teknologi mereka tentu sangat rendah, dan hampir-hampir tidak bisa kita lihat sisi "kemanusiaan"nya.Kedua. Setelah kepunahan manusia purba untuk sekian lamanya, barulah Allah menciptakan jenis manusia baru yang “berbeda”. Manusia jenis ini dibekali nafsu dan insting untuk hidup, namun juga dibekali “ilmu pengetahuan yang sempurna” termasuk diturunkannya agama (QS. Al-Baqarah 31-33). Adam-lah yang menjadi manusia pertama yang diciptakan dari jenis ini.Penciptaan “manusia purba” yang punah itu menjadi pelajaran bagi Adam dan keturunannya, bahwa manusia tanpa “ilmu pengetahuan dan agama” hanya akan menciptakan kerusakan di bumi dan menumpahkan darah sesamanya, dan inilah yang menjadi penyebab punahnya mereka.Jadi, manusia yang hidup di bumi saat ini merupakan keturunan Adam seluruhnya. Tidak ada satupun yang merupakan keturunan manusia purba. Manusia purba benar-benar sudah punah. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Jawa-Indonesia kalaulah benar usianya sudah jutaan tahun, maka bukanlah nenek moyang asli dari penduduk Jawa sekarang ini, begitu juga fosil-fosil di tempat lain bukanlah nenek moyang dari manusia yang ada sekarang.
Lain urusanBerbeda lagi urusannya, apakah manusia-manusia purba itu merupakan keturunan kera ataukah bukan? Kalau benar keturunan kera, mengapa kera-kera itu sekarang masih ada? Apakah kera-kera itu tidak ikut berevolusi? Kera-kera sekarang ini dulunya seperti apa, dan nanti akan menjadi seperti apa? Jangan-jangan kera punya garis sendiri, dan manusia punya garis sendiri, artinya teori evolusi itu hanya mengada-ada?Ketika teori evolusi menyimpulkan bahwa burung-burung yang ada sekarang adalah hasil evolusi dari dinosaurus seperti T-Rex di zaman purbakala, tiba-tiba ditemukan fosil “burung yang sama” yang usianya sezaman dengan T-Rex. Berarti burung yang sekarang, dulu juga adalah burung, bukan evolusi dari T-Rex, dan memang tidak ada evolusi!?Semua ini masih menjadi perdebatan antara penganut teori evolusi dan penentangnya, juga menjadi pekerjaan rumah bagi manusia untuk membuktikan kebenarannya

Read more
Anak Matahari - Fenomena Langka Alam dari Pusat Tata Surya

In , , By fauzan ishlah / Kamis, Mei 16, 2013
Sun Dog (Anak Matahari)


Apakah Anda pernah mendengar
fenomena ditemukannya anak
matahari? Jika belum, apakah
yang ada di benak Anda begitu
mendengar anak matahari?
Apakah matahari juga memiliki
sistem reproduksi seperti halnya
manusia sehingga juga mampu
memiliki anak matahari? Jika
matahari mempunyai anak,
apakah anak matahari ini yang
akan menggantikan matahari
sebagai pusat tata surya kita?
Fenomena ditemukannya anak
matahari benar adanya dan
terjadi pada 2010 silam. Namun
tunggu dulu, jangan kita
langsung berpikir bahwa itu
sebagai tanda kiamat akan
datang karena penemuan anak
matahari merupakan gejala alam
yang sangat langka. Jangan pula
dikait-kaitkan dengan adanya
campur tangan alien dari planet
lain, sampai anggapan bahwa
langit akan runtuh. Fenomena ini
memang pernah terjadi.
Fenomena Alam Langka dari
Sang Surya
Anak matahari ini sebenarnya
berdasarkan hasil rekaman
teleskop Herschel dari Badan
Luar Angkasa Eropa (ESA) pada
bulan Mei 2010. Teleskop
Herschel yang disebut juga
dengan RCW 120 itu menangkap
citra gelembung gas atau embrio
bintang yang diperkirakan
memiliki massa jauh lebih besar
daripada matahari. Ternyata
bintang di pusat tata surya kita
bisa melahirkan bintang baru,
bahkan bisa memunculkan
planet baru sehingga tak
mustahil jika bisa melahirkan
calon gelembung gas sebagai
embrio anak matahari.
Embrio gelembung gas yang
merupakan sebagai calon anak
matahari yang tertangkap oleh
teleskop Herschel dengan
bantuan detektor inframerah
yang dimilikinya. Detektor
inframerah ini mampu melihat
materi yang memiliki suhu
rendah dan bisa melahirkan
bintang sehingga teleskop
tersebut bisa menangkap embrio
gelembung gas anak matahari.
Teleskop Herchel ini juga mampu
menjelaskan bagaimana proses
terbentuknya anak matahari.
Lalu bagaimana calon anak
matahari tersebut bisa
terbentuk? Calon anak matahari
yang tertangkap dalam citra
teleskop Herchel tersebut terlihat
mirip gumpalan berwarna putih
yang berada di bagian bawah
gelembung gas.
Nah, embrio anak matahari itu
diperkirakan akan terus tumbuh
menjadi sebuah bintang anak
matahari yang besar, bahkan
paling besar dengan memiliki
pancaran sinar yang paling cerah
dalam galaksi selama ratusan
ribu tahun ke depan. Embrio
anak matahari tersebut pada
saat terekam citra teleskop
memiliki massa berkisar delapan
sampai sepuluh kali lebih besar
dari massa matahari.
Apakah embrio anak matahari itu
nantinya akan menjadi matahari
dan bisa menggantikan matahari
sebagai pusat tata surya?
Tunggu dulu, tidak selamanya
embrio anak matahari akan
tumbuh menjadi matahari
sungguhan. Mengapa demikian?
Berdasarkan pengamatan dari
teleskop Herschel, bila embrio
anak matahari yang
mengandung gas dan debu, lalu
gas dan debu tersebut banyak
yang berjatuhan di sekitar calon
anak matahari, embrio anak
matahari tersebut memiliki
potensi sebagai salah satu objek
yang sangat besar dalam Galaksi
Bima Sakti.
Apakah embrio anak matahari ini
nantinya bisa berfungsi sebagai
pusat tata surya? Embrio anak
matahari tersebut berfungsi
sebagai pengontrol evolusi kimia
serta kedinamisan galaksi.
Embrio anak matahari ini juga
sebagai bintang besar nantinya
sebagai pencipta elemen berat
semacam besi yang akan
menempati ruang antar bintang.
Ketika embrio anak matahari
tersebut tumbuh menjadi
bintang yang besar dan berakhir
melalui sebuah ledakan
supernova, embrio anak
matahari tersebut bisa
memberikan energi besar untuk
galaksi.
Nah, berdasarkan penjelasan di
atas, jangan berasumsi terlebih
dahulu dengan fenomena anak
matahari sebagai pengganti
matahari di pusat tata surya kita.
Fenomena anak matahari ini bisa
dikatakan sebagai proses
terbentuknya bintang baru,
seperti halnya seringkali kita
mendengar munculnya planet
baru dalam pusat tata surya kita.
Hanya saja, bentuknya berupa
gas yang mirip dengan material
matahari sehingga muncul
anggapan bahwa itu merupakan
embrio anak matahari.
Fenomena Alam dalam Sistem
Tata Surya yang Menyerupai
Anak Matahari
Fenomena alam dalam sistem
tata surya kita yang menyerupai
anak matahari juga banyak
terjadi di belahan dunia lain.
Fenomena alam yang disebut
sebagai anak matahari ini
merupakan fenomena alam yang
tidak perlu ditakutkan, apalagi
diasumsikan sebagai tanda
bahwa dunia ini akan binasa.
Sebenarnya, fenomena alam yang
muncul termasuk anak matahari
ini disebabkan oleh efek dari
material yang dimiliki anggota
tata surya kita sendiri. Salah
satunya adalah fenomena
atmosferik yang mampu
memperlihatkan seolah-olah
matahari memiliki anak matahari.
Selain fenomena anak matahari,
apakah Anda masih ingat
dengan fenomena ditemukannya
ratusan planet baru dalam sistem
tata surya kita? Terjadinya
fenomena planet pluto yang
hilang dari lintasannya?
Meledaknya bintang besar
dengan ledakan supernova yang
bisa membentuk bintang lain
atau fenomena meteor jatuh ke
bumi sampai fenomena sehati
tanpa adanya bayangan
matahari?
Nah, itu semua bisa terjadi
karena efek dari material yang
dimiliki anggota tata surya kita.
Hampir sama halnya dengan
berapa hari matahari
mengelilingi bumi dan
sebaliknya. Jadi, jangan heran
bila ada fenomena anak
matahari.
Lalu apa fenomena alam di tata
surya kita yang menyerupai atau
disebut dengan anak matahari
itu? Selain dari penemuan
embrio anak matahari oleh
teleskop Herschel dari ESA, ada
beberapa fenomena anak
matahari yang lainnya dengan
proses terbentuknya yang tak
kalah menariknya dari embrio
anak matahari. Berikut fenomena
terbentuknya anak matahari.
Fenomena Anak Matahari Sun
Dog
Mengapa fenomena anak
matahari ini disebut sebagai
anak matahari Sun Dog? Apakah
anak matahari tersebut
menyerupai anjing? Tentu saja
bukan. Fenomena anak matahari
Sun Dog ini merupakan
fenomena matahari terlihat
memiliki beberapa anak di kedua
sisinya dan selalu berdampingan,
seperti anak anjing yang selalu
mengikuti majikannya. Oleh
karena itu, fenomena anak
matahari ini disebut dengan Sun
Dog. Bentuknya tetap seperti
matahari bukan seekor anjing,
hanya saja bentuknya lebih kecil
dari matahari sebenarnya.
Lalu bagaimana fenomena anak
matahari Sun Dog ini bisa
terjadi? Apakah matahari bisa
membelah diri seperti halnya
amuba? Tepatnya tidak seperti
itu. Anak matahari Sun Dog ini
terjadi dari fenomena atmosferik.
Fenomena sebagai dasar
terbentuknya anak matahari ini
sudah dikenal dalam dunia sains.
Dengan kata lain, fenomena anak
matahari Sun Dog ini sudah
lumrah terjadi dan bukan
sebagai suatu keanehan lagi.
Fenomena anak matahari Sun
Dog ini dalam dunia sains
disebut dengan Parhelion,
sebagai pembentuk parhelic
cicle. Nah, anak matahari Sun Dog
ini muncul bersamaan dengan
parhelic circle tersebut.
Apa itu parhelic circle yang
muncul bersama proses
terjadinya anak matahari Sun
Dog? Parhelic circel ini
merupakan garis lengkung
berwarna putih yang bisa
menembus matahari. Terjadinya
parhelic circle tidak sama dengan
anak matahari Sun Dog. Jika
dalam anak matahari Sun Dog
posisi lempengan es kristal
berbentuk horizontal, tetapi
dalam parhelic circle posisi
lempengan es kristal berbentuk
vertikal. Parhelic circle ini juga
mengiringi proses terjadinya
anak matahari Sun Dog.
Sebenarnya fenomena anak
matahari Sun Dog ini jarang
sekali terjadi karena terjadi
ketika atmosfer mengalami
peristiwa atmosferik yang
langka. Jadi, fenomena anak
matahari Sun Dog ini tidak terjadi
setiap waktu, hanya waktu-
waktu tertentu. Berikut proses
terjadinya anak matahari Sun
Dog.
1) Fenomena anak matahari Sun Dog terjadi ketika cahaya matahari menembus lempengan es kristal hexagonal yang ada di langit.
2) Cahaya matahari yang menembus tersebut akan berbelok dan membentuk sudut 22 derajat.
3) Dari cahaya matahari yang membentuk sudut 22 derajat tersebut akan muncul cahaya matahari tambahan di kedua sisi kiri dan kanan matahari.
4) Munculnya cahaya lain di sisi kiri dan kanan matahari ini bentuknya seperti matahari namun berukuran lebih kecil sehingga disebut dengan anak matahari.
5) Ketika anak matahari Sun Dog berada dekat dengan matahari, akan mengalami perubahan warna, yaitu berwarna merah dari sebelumnya kuning. Namun jika anak matahari Sun Dog menjauhi matahari, warnanya berubah menjadi kebiruan.

Matahari yang membentuk lengkungan 22 derajat tersebut memiliki cahaya di kedua sisinya. Cahaya yang terbentuk di kedua sisi matahari tersebut disebut dengan anak matahari Sun Dog.
Read more
Cara Membuat Chat Meme Emoticons di Facebook Melalui Google Chrome

In , , By fauzan ishlah / Minggu, Mei 12, 2013
Cara Membuat Meme Emoticons di Facebook Melalui Google Chrome

Jangan Buka Facebook dulu biar lebih gampang
Langsung Aja

1. Pergi ke Ekstensi > Facebook Memes (atau klik di sini) nanti akan muncul seperti ini

2. Klik Tambah ke Chrome 

And Finish..

Sekarang Tinggal Buka Facebook
Lalu ke Chat 
Klik Gambar Troll
Nanti akan Muncul 



Pilih Gambarnya.. Lalu tekan Enter..




Read more
Mengenal Sistem Penamaan Asteroid

In , , By fauzan ishlah / Sabtu, Mei 11, 2013

Seperti halnya penamaan bintang
atau planet, penamaan
asteroid pun memiliki tata cara tertentu. Ada asteroid 4 Vesta, ada asteroid 99942 Apophis, ada pula asteroid yang dinamai 2012 Da14.
Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengatakan, "Pemberian nama untuk benda-benda luar angkasa tidak bisa dilakukan
sembarangan. Ada badan khusus yang berwenang melakukan itu."
Badan yang dimaksud adalah International Astronomical Union (IAU). IAU merupakan
wadah tempat berkumpulnya peneliti dan pakar astronomi dunia. Hingga kini, IAU memiliki 10.871 anggota perorangan dari 93 negara.
Dari ke-93 negara itu, 73 di antaranya adalah negara anggota.
Nama benda luar angkasa tak serta-merta langsung diberikan. Sesaat setelah berhasil diamati dan terdeteksi, benda itu diberi kode sebagai nama sementara (provisional designation).
Pemberian kode ini bertujuan untuk mempemudah proses
dokumentasi dan
pengelompokan benda luar angkasa tersebut. Sistem ini
berlaku untuk semua obyek luar angkasa yang teramati,
termasuk asteroid.
Pemberian kode pun memiliki arti tertentu. Sebagai contoh,
nama asteroid 2012 DA14,
yang melintas dekat Bumi pada Sabtu dini hari lalu, punya arti tertentu.
"2012" menandakan tahun teramatinya asteroid tersebut.
Huruf "D" berarti asteroid tersebut terdeteksi antara
tanggal 16 dan 29 Februari," urai Ma'rufin saat dihubungi Kompas.com, Selasa
(19/2/2013).
"Sementara itu, huruf kedua menandakan urutan obyek yang berhasil terdeteksi pada pertengahan bulan itu.
Terakhir, angka '14'
bermakna kode 'DA' pada asteroid ini adalah urutan
ke-14," tambahnya.
Pada kasus 2012 DA14, berarti asteroid tersebut adalah asteroid pertama yang terdeteksi pada bulan Februari tahun 2012 antara tanggal 16 dan 29 Februari.
Asteroid 2012 DA14
terdeteksi kali pertama oleh peneliti di Observatorio Astronomica de la Sagra, Spanyol, tanggal 16 Februari
2012.
Asteroid yang memiliki nama "panggilan" seperti Apophis dan Vesta berarti orbitnya telah diketahui.
Contoh, asteroid Apophis saat ditemukan kali pertama dinamai 2004 MN4. Artinya, asteroid ini ditemukan pada tahun 2004. Asteroid
kemudian memperoleh nomor permanen 99942 setelah orbitnya diketahui. Setelah itu,
barulah nama "panggilan" ditetapkan, yakni Apophis.
Read more